Showing posts with label Seni. Show all posts
Showing posts with label Seni. Show all posts

Friday, December 4, 2015

Landscape Anomaly; Bicara Melalui Simbol


Bertempat di Galery Salihara, seniman Eko Nugroho kembali mengadakan pameran tunggalnya di Indonesia setelah vakum selama 4 tahun, pameran yang mengambil tema landscape anomaly ini diakui Eko menghabiskan waktu persiapan sejak setahun yang lalu. Landscape anomaly merupakan cuplikan dari berbagai fenomena masyarakat yang dapat dilihat dari kacamata individu maupun global.


Pameran yang berlangsung dari 22 November - 21 Desember 2015 ini memamerkan 21 karya terbaru Eko Nugroho. Karya nya banyak dipengaruhi dari situasi lingkungan dan sosial politik di sekitarnya, ia kerap kali menuangkan komentarnya melalui simbol - simbol yang berupa lukisan, patung, mural, sampai instalasi seni. Karya Eko Nugroho dapat juga dilihat sebagai plesetan dari situasi sosial politik yang diterjemahkan ke dalam karya seni kontemporer.

Meskipun karya Eko terlihat absurd dan fantasi, namun bila diperhatikan keseluruhan karyanya merujuk pada masalah yang serius dan kerap kali bernuansa politis. Karya Eko Nugroho menggunakan banyak simbol - simbol yang kita ketahui bersama, namun berbeda dari biasanya. Hal inilah yang ia sebut sebagai anomaly dari karya - karya nya.


Karya - Karya Eko Nugroho ini merupakan karya kontemporer yang tidak mudah dimengerti dalam sekali pandang, sekilas karya Eko hanyalah seni instalasi biasa, namun semakin lama dipandang kita akan mengerti bahwa karya tersebut mewakili suatu masalah tertentu. karya - karya Eko Nugroho tidak hanya komunikatif, namun juga mengajak kita merenungi masalah yang terkandung di dalamnya.

Bayu Raditya Pratama

Friday, November 27, 2015

ICAD 2015; Penggabungan Makna Filosofis Dan Bentuk

Karya Harry Purwanto

Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) kembali digelar, bertempat di Hotel Grand Kemang Jakarta, acara ICAD 2015 yang telah memasuki tahun ke-6 nya ini mengusung tema vertical horizon. Menurut Hafiz Rancajale selaku kurator, vertical horizon dimaknai sebagai hubungan manusia dengan Tuhan (vertical), dan dengan sesama (horizontal). Vertical Horizon bisa juga diartikan sebagai cara manusia melihat penggabungan 2 hal yang sifatnya filosofis dan bentuk menjadi satu kesatuan.

Karya Savira Lavinia Raswari

Pameran yang berlangsung dari tanggal 28 Oktober - 30 November 2015 ini menampilkan karya dari 30 seniman lintas generasi. Para seniman pun melewati proses kurasi yang cukup panjang, karya mereka haruslah mengangkat kekayaan budaya Indonesia yang diterjemahkan kembali dalam bentuk yang kekinian. Latar belakang para seniman pun beragam dari perancang busana, arsitek, photographer, hingga musisi.

Karya Ines Katamso

Menciptakan suatu karya kontemporer bukanlah perkara yang mudah, kebebasan seniman dalam menafsirkan kekayaan budaya Indonesia ke dalam bentuk baru inilah yang terkadang malah menghilangkan unsur nilai yang terkandung didalamnya. Dalam acara ICAD 2015 ini juga melibatkan 14 seniman muda asal Denmark dengan menggunakan rotan Indonesia sebagai materialnya, para seniman asal Denmark ini terlebih dahulu mengikuti program residensi di Cirebon.

Karya Danish Emerging Designer

Tidak hanya menghadirkan pameran seni instalasi, ICAD 2015 juga mengadakan talk-show mengenai seni dan desain, konvensi, hingga pemutaran film. Program tersebut merupakan hasil kerja sama dengan British Council, Institute Français Indonesia, dan kedutaan Denmark. Hal yang membanggakan lainnya ialah acara ICAD 2015 ini dihadiri oleh Ratu Denmark, Margrethe II.

Bayu Raditya Pratama 

Saturday, April 18, 2015

Tafsir Kontemporer Atas Warisan Budaya Seni Patung Indonesia

karya Taufan AP

Seni patung sudah menjadi salah satu bagian dari kebudayaan Indonesia, hal ini terlihat dari peninggalan warisan budaya seni patung yang menjadi bagian daya tarik Indonesia. menurut Hermawan Tanzil dari Dia.lo.gue Artspace, seni dan desain memiliki tanggung jawab untuk mewakili dan mepesentasikan secara visual sejarah manusia. sebuah warisan bukanlah sekedar simbol antik dari masa lampau, namun seorang perupa seni sudah seharusnya mempelajari sejarah untuk terus maju, mencari relevansi pribadi dalam konteks kontemporer.

karya Arya Pandjalu

Gagasan tersebut yang melandasi Dia.lo.gue Artspace mengadakan pameran bertajuk contemporary eye of indonesian art & culture heritage. Pameran ini tidak hanya sekedar memamerkan karya, namun juga sebagai hasil proses penafsiran dari percakapan antara pematung dengan objek yang menjadi insprasinya."yang bisa dilihat dalam pameran ini ialah, seorang seniman mempunyai otoritas dalam berkarya. mereka memiliki kemerdekaan penuh dalam memilih medium, merancang, dan menemukan konsep dalam berkarya," kata Dolorosa Sinaga salah satu exhibitor pameran ini.

Karya Nus Salomo

Pameran yang berlangsung tanggal 15-17 April 2015 ini menampilkan karya kontemporer dari 8 pematung, yakni Anusapati, Arya Pandjalu, Budi Santoso, Dolorosa Sinaga, Awan Parulian Simatupang, Nus Salomo, Lenny Ratnasari Weichert, dan Taufan AP. Para seniman ini dengan bebas menafsirkan warisan budaya Indonesia ke dalam berbagai bentuk seni patung kontemporer, "peranan contemporary art di dalam heritage menjadi sangat penting, karen seharusnya mereka mengakomodasi perubahan dari heritage, dan menambah layer baru di dalam perjalananya, tanpa mengurangi esensi penting dalam warisan budaya," ujar Lin Che Wei CEO PT. Pembangunan Kota Tua Jakarta. 
              

Bayu Raditya Pratama